Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Religi. Tampilkan semua postingan

Rasulullah SAW bukan orang miskin !!!!


Dalam cerita kehidupan Rasulullah tentang kekayaannya, banyak hal yang kita pahami secara salah, banyak cerita - cerita kehidupan beliau yang seolah - olah beliau itu orang yang miskin dengan penghasilan yang tidak menentu. 

Cerita - cerita ini sesungguhnya membawa dampak yang kurang baik terhadap umat Islam, menjadikan umat islam itu malas untuk berusaha agar menjadi kaya, karena toh contohnya hidup dalam kemiskinan. 

Hal ini juga yang digembar gemborkan pada saat zaman Penjajahan Belanda dulu, yaitu biarlah umat Islam menghabiskan waktunya untuk Ibadah, sedangkan harta dan kekayaan alam biar ditangani oleh penjajah.

Yang menyatakan bahwa Rasulullah itu miskin dan berpenghasilan kecil sebenarnya adalah salah besar.

Lho . . .  yang benar bagaimana ?
Yang benar adalah beliau itu berpenghasilan besar, namun beliau gemar hidup sederhana dan mencontohkan hidup bersahaja, karena penghasilannya yang besar lebih banyak digunakan untuk kepentingan umat.

Secara sederhana kita bisa membagi golongan kekayaan dan cara hidup manusia menjadi 4 Golongan, yakni :
1. Orang Miskin dengan penghasilannya kecil. Gaya hidupnya juga   sederhana dan serba kekurangan.
2. Orang Miskin dengan gaya hidup melebihi penghasilannya. Nah ini banyak terjadi di Indonesia yang menyebabkan Korupsi merajalela.
3. Orang Kaya yang sederhana. Golongan ini memiliki penghasilan besar tapi memiliki kecenderungan untuk menabung atau diinvestasikan karena gaya hidupnya yang sederhana.
4. Orang Kaya yang bermewah mewahan. Penghasilannya yang besar cenderung dihabiskan dengan hal yang tidak banyak berguna.

Jadi kalau kita lihat sekilas, maka yang terbaik dari 4 golongan diatas adalah Orang Kaya yang gaya hidupnya sederhana, gemar beribadah dan gemar sedekah. Sedangkan yang terburuk adalah Orang yang gaya hidupnya melebihi penghasilannya, Na’udzubillah min dzalik.


Kembali ke Kehidupan Rasulullah, mengapa bisa dikatakan bahwa Rasulullah itu tidak miskin, simak uraian berikut mengenai asal muasal penghasilan Rasulullah SAW.

- Usia 7 tahun : Menggembala kambing yang jumlahnya ratusan ekor. Setiap kambing yang ada dalam gembalaannya selalu pulang dalam keadaan kenyang, selamat, utuh jumlahnya, dan sehat-sehat. 
- Usia 12 tahun : Ikut rombongan ekspedisi dagang (eksportir) bersama dengan pamannya, Abu Thalib, ke Syam. Setelah itu makin aktif melakukan perjalanan bisnis ke Irak, Yordania, Bahrain, Suriah dan Yaman. 
- Usia 17 tahun : Mengelola seluruh bisnis pamannya karena pamannya tidak bisa terjun lagi secara langsung menangani usaha tersebut. 
- Usia 17-20 tahun : Masa tersulit dalam menjalani bisnis karena harus bersaing dengan para senior dalam perdagangan regional. 
- Usia 20-25 tahun : Merupakan titik keemasan Nabi Muhammad dalam menjalankan bisnisnya, sebagai CEO dari Perusahaan Siti Khadijah
- Usia 37 tahun : mulai mengurangi perjalanan bisnis 
- Usia 37-40 tahun : lebih banyak terlibat dalam masalah perbaikan sosial masyarakat. 

Disetiap pekerjaannya Muhamad menerima upah yang cukup dan baik dikarenakan ketekunan dan kejujuran beliau, sehingga pada usia 37-40 tahun beliau sudah mempunyai Pasif Income yang sangat cukup sehingga beliau lebih banyak menghabiskan waktunya untuk kegiatan sosial, termasuk mendirikan Hifdzul Fudhul, yaitu lembaga yang memiliki misi menegakkan kebenaran dan mencegah kejahatan di tengah masyarakat, dan pada usia 40 tahun dipilih Allah menjadi Rasul-Nya.

Terpikat dengan kejujuran dan kepiawaian Muhammad dalam mengelola bisnisnya, Siti Khadijah kemudian melamar Muhammad sebagai suaminya. Gayung bersambut, cinta tidak bertepuk sebelah tangan. Menikahlah Muhammad yang pada saat itu sudah berusia 25 tahun, dengan Siti Khadijah yang baru berusia 40 tahun. Dan sebagai mas kawin, Muhammad menghadiahkan 100 ekor unta kepada siti Khadijah, ada pula yang menyebutkan “hanya” 20 ekor unta merah. 

Jika kita hitung secara matematis, pada saat itu harga 1 ekor unta 200 – 300 dinar, berarti 100 x 300 = 30.000 dinar, kalau nilai 1 dinar setara dengan 110 Dollar AS, maka mas kawin Yang diberikan oleh Nabi Muhammad adalah senilai = 3.300.000 Dollar AS atau Setara Rp.33.000.000.000 – TIGA PULUH TIGA MILIAR RUPIAH! Atau kalau Memang hanya 20 ekor maka nilainya adalah 6,6 MILYAR RUPIAH!) 

Catatan : sampai saat ini harga Unta memang sekitar 200 - 300 dinar perekornya, karena tingkat inflansi yang sangat rendah di Arab Saudi

Jadi pada saat Rasulullah SAW berusia 25 tahun saja beliau dapat memberikan mahar sebesar 33 Milyard Rupiah, kesimpulannya Rasulullah SAW tidaklah miskin, beliau adalah orang kaya yang berpola hidup sederhana, dan membelanjakan hartanya untuk kegiatan sosial dan keagamaan.

Dapat kita bayangkan kondisi Rasulullah SAW setelah menikah, gabungan neraca keuangan antara Rasulullah SAW dengan Ummul Mukminun Khadijah r.a sudah pasti berjumlah sangat besar mengingat Khadijah sendiri merupakan seorang seorang janda yang sangat kaya raya.

Wallahu a'lam.



Dikutip dari berbagai sumber 







Kemuliaan Ummul Mukminin Khadijah Al Kubra r.a


Siapakah di antara kita yang mampu memenuhi hak Ummul Mukminin ini atau sebagian kecil saja diantaranya? Tidak ada. Dialah Khadijah yang tumbuh dewasa dengan akhlak yang mulia. Ia memiliki sifat selalu menjaga kehormatan, kemuliaan, dan kesempurnaan sehingga di kalangan wanita-wanita Makkah saat itu popular dengan julukan At Tahirah (wanita yang suci). Ia adalah seorang ibu suci yang mendapatkan gelar harum semerbak di masa noda-noda jahiliyah sedang merajalela dan nilai-nilai kaum wanita dilecehkan.

Ia dilahirkan di Ummul Qurra tahun 68 sebelum Hijrah, bertepatan dengan 15 tahun sebelum terjadinya tahun gajah atau bertepatan pula dengan tahun 556 Masehi. Ibunya adalah Fatimah binti Zaidah bin Asham, seorang wanita Quraisy dari Bani Amir bin Lu`ay dan bapaknya bernama Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza, salah seorang tokoh Quraisy yang meninggal pada masa terjadinya perang Fujjar. Semula Khadijah adalah istri dari Abu Halah bin Zurarah At Tamimi. Ketika suaminya meninggal, ia dinikahi oleh Atiq bin Abid Al Mahzumi, lalu dinikahi oleh yang mulia Rasulullah SAW.

Saat Khadijah membina rumah tangga dengan Rasulullah Muhammad SAW bintangnya mulai terang, keutamaanya semakin jelas, dan ia menjadi pemimpin seluruh wanita Makkah, bahkan melampaui seluruh wanita dunia di manapun. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda “Cukuplah bagimu dari wanita dunia : Maryam bin Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad dan Asiyah isteri Fir`aun (Asiyah binti Muzahim).”

Khadijah merupakan teladan yang indah bagi kaum wanita Makkah baik dalam hal kedudukan, kemuliaan  maupun harta kekayaan. Ia memiliki perniagaan yang luas dan para pekerja yang terdiri dari orang-orang yang jujur dalam membawa barang dagangannya. Ia memberikan kepada mereka upah yang telah disepakati. Dalam masa itulah Khadijah mulai mengenal seorang pemuda yang terpercaya, Muhammad bin Abdullah, yang nasabnya bertemu dengannya pada Qusay bin Kilab. Untuk hal ini Imam Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani berkomentar tentang pribadi Khadijah “Ia adalah istri Nabi SAW yang paling dekat nasabnya dengan beliau”.

Khadijah dikenal sebagai seorang wanita yang memiliki pandangan tajam dan firasat yang benar. Ia mendengar dan menyaksikan langsung informasi yang harum semerbak tentang Muhammad bin Abdullah dari pagi hingga sore hari. Akhlak Muhammad SAW dan sifat-sifatnya yang indah telah mengharumkan dunia serta memikat daya tarik. Maka Khadijah ingin agar Muhammad bin Abdullah SAW membawa barang dagangannya. Khadijah mengirim seorang pelayannya kepada beliau SAW dengan menitipkan pesan “Sesungguhnya yang mendorongku untuk mengirim pelayan kepadamu adalah karena ada berita yang telah sampai kepadaku tentang kejujuran ucapanmu, besarnya amanatmu dan kemuliaan akhlakmu, maka saya akan memberikan kepadamu upah dua kali lipat dari yang biasa aku berikan kepada orang lain”. Rasulullah SAW menerima tawaran tersebut. Saat Abu Thalib mendengar upah yang demikian itu, ia mengatakan kepada beliau SAW “Ini adalah rezeki yang Allah kirim kepadamu”.

Abu Ja`far Ath Thabari, Ibnu Katsir dan Ibnu Sayidin Nas meriwayatkan dari Ma`mar dari Imam Syihab Az Zuhri, ia berkata “ Tatkala beliau SAW tumbuh dewasa dan mencapai usia baligh, namun tidak memiliki harta yang cukup, Khadijah mengupahnya untuk menjualkan barang dagangannya ke pasar Khubasyah, sebuah pasar di daerah Tihamah. Ada seorang laki-laki Quraisy yang lain yang juga membawa barang dagangan Khadijah bersama beliau SAW. Beliau SAW mengisahkan tentang Khadijah ini “Saya tidak pernah melihat seorang wanita pemilik modal yang lebih baik dari Khadijah. Setiap kali saya dan kawan saya pulang dari berdagang, kami selalu mendapati senampan makanan yang telah ia siapkan untuk kami”

Khadijah mulai merasakan kejujuran dan kemuliaan akhlak Muhammad SAW. Maka ia pun semakin memperbanyak jumlah upah untuk beliau SAW. Ketika beliau SAW mencapai usia 25 tahun, beliau dipercaya membawa barang dagangan Khadijah ke Syam bersama seorang pembantu Khadijah yang bernama Maisarah. Di Syam, beliau SAW menjual barang-barang Khadijah dan sebagai gantinya membeli barang-barang yang akan dibawa ke Mekkah. Beliau SAW meraih keuntungan yang berlipat dari keuntungan Khadijah yang sebelumnya. Beliau SAW kemudian kembali ke Mekkah dan menyerahkan seluruh harta dan keuntungan tersebut kepada Khadijah dengan sikap amanah yang sempurna. Allah SAW telah menjaga beliau SAW dalam perlindunganNya, sehingga selain mempunyai kebaikan yang banyak, perjalanan ke Syam ini mempunyai pengaruh yang penuh berkah bagi kehidupan beliau SAW sendiri.

Setelah sampai di Mekkah, Maisarah mulai menceritakan kemuliaan akhlak, kebaikan pergaulan dan kebesaran amanah Muhammad SAW yang ia saksikan sendiri. Bahkan ia juga menceritakan beberapa tanda kenabian yang ia rasakan dan lihat langsung dengan kedua matanya. Banyak sekali sifat-sifat beliau SAW yang ia lihat selama dalam perjalanan. Ia menceritakan kesaksiannya kepada Khadijah dengan jujur. Khadijah sendiri amat senang dengan sifat amanah dan kejujuran beliau SAW juga berkah dan laba perdagangan yang diperolehnya. Allah SWT telah menetapkan kemuliaan serta memberikan kebaikan pada diri Khadijah dengan menumbuhkan dalam jiwanya sebuah keinginan mulia yang penuh berkah yang akan menjadikannya sebagai seorang yang meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Perlu kita ketahui bahwa para tokoh dan pemimpin di Mekkah sangat berhasrat untuk menikahi Khadijah, namun ia menolak pinangan mereka. Ia justru mendapatkan apa yang selama ini ia inginkan dan cita-citakan dalam diri Muhammad SAW. Ia pun menceritakan isi hatinya kepada seorang sahabatnya, Nufaisah binti Munayah.

Nufaisah pun segera bergegas menemui Muhammad SAW dan berbicara kepada beliau SAW agar menikahi Khadijah, katanya “Apa yang menghalangimu untuk menikah hai Muhammad ?” beliau SAW menjawab “Saya tidak mempunyai harta untuk menikah”
“Jika engkau ditanggung dan diajak untuk menikahi seorang wanita yang cantik, berharta, mulia dan sebanding, maukah engkau memenuhinya ?” Tanya Nufaisah.
“Siapa dia ?” Tanya beliau SAW
“Khadijah” jawab Nufaisah.
“Bagaimana mungkin?” kata beliau SAW
“Saya yang menjamin” jelas Nufaisah
“Kalau begitu saya terima” jawab beliau SAW

Nufaisah kembali menemui Khadijah dengan membawa berita keberhasilannya dalam menunaikan tugasnya. Ia menyebutkan kesediaan Muhammad untuk menikahi Khadijah. Kemudian Khadijah segera mengutus seorang pembantunya untuk menemui pamannya yang bernama Amru bin Asad untuk hadir menjadi wali nikahnya. Setelah itu beliau SAW bersama keluarga besar Abdul Muthalib datang ke rumah Khadijah. Rombongan ini dipimpin oleh paman beliau sendiri, Hamzah dan Abu Thalib. Mereka disambut oleh paman Khadijah dan juga sepupunya yaitu Waraqah bin Nufail. Abu Thalib berdiri dan menyampaikan sebuah khutbah yang indah yang beberapa bagian kalimatnya adalah sebagai berikut “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita keturunan Ibrahim dan benih Ismail , menjadikan kita para pemelihara rumahNya dan pengurus Al Haram, menjadikan untuk kita sebuah rumah terlindungi yaitu Al Haram yang penuh rasa aman. Sesungguhnya keponakan saya ini, Muhammad bin Abdullah, tidaklah kemuliaan, kecerdikan dan keutamaannya dibandingkan dengan lelaki Quraisy manapun kecuali ia lebih unggul. Muhammad sudah kalian ketahui kekerabatannya. Ia mempunyai keinginan untuk menikahi Khadijah binti Khuwailid dan Khadijah pun memiliki keinginan yang sama. Ada pun mahar yang kalian inginkan menjadi tanggungan saya.”
Paman Khadijah, Amru bin Asad yang saat itu sudah memasuki usia senja menerima lamaran Abu Thalib dan mengatakan “ Muhammad adalah laki-laki mulia yang tak mungkin di tolak”
Dan sebagai mas kawin, Muhammad menghadiahkan 100 ekor unta kepada siti Khadijah (ada pula yang menyebutkan “hanya” 20 ekor unta merah) atau senilai dengan 33 Miliar Rupiah (6,6 Miliar untuk versi 20 ekor unta).
Beliau SAW mengadakan pesta pernikahan dengan menyembelih unta dan memberi makan para tamu. Al Bushairi telah menggubah sebuah syair tentang hal ini :
“Khadijah melihat ketaqwaan, kezuhudan, dan rasa malu adalah perangai Muhammad. Telah sampai berita kepadanya bahwa awan dan pohon besar menaunginya. Berita bahwa akan ada seorang utusan Allah akan dibangkitkan, telah tiba masanya. Ia pun tergugah untuk menikah dengannya. Alangkah bagusnya kala orang cerdik menggapai citanya”
Saat itu Khadijah berusia 40 tahun, usia kesempurnaan seorang ibu, sedangkan Muhammad SAW adalah seorang pemuda yang berusia 25 tahun. Dalam pernikahan yang diberkahi ini Khadijah adalah seorang istri yang penyayang dan seorang ibu yang lembut. Pernikahan ini adalah pernikahan yang bahagia dan dipenuhi keberkahan. Muhammad SAW adalah sebaik-baik suami sedangkan Khadijah adalah sebaik-baik istri. Keduanya menjalani kehidupan rumah tangga dengan penuh ketenangan dan kecintaan. Khadijah telah menjadi teladan yang indah dalam hal keshalehan dan kedermawanan. Ketika ia merasakan bahwa suaminya sangat mencintai budaknya, Zaid bin Haritsah, ia pun menghadiahkan Zaid kepada suaminya. Maka bertambah tinggilah kedudukannya dalam hati suaminya.
Ketika beliau SAW mengasuh sepupunya, Ali bin Abi Thalib r.a mendapati Khadijah sebagai seorang ibu yang penyayang dan pemelihara yang sempurna. Allah menyempurnakan suami istri ini dengan beberapa anak : Qosim, dengannya beliau SAW dipanggil Abu Qosim, Zaenab, Ruqoyah, Fatimah dan Ummu Kultsum. Semuanya dilahirkan sebelum beliau SAW diangkat menjadi Nabi. Setelah beliau SAW diangkat menjadi Nabi, Khadijah melahirkan Abdullah yang juga dijuluki At Thayyib dan At Thahir. Jarak antara masing-masing anak hanya selang dua tahun, dan Khadijah sendiri yang menyusui mereka.
Ibnu Abbas r.a menyebutkan putera-putera Rasulullah Muhammad SAW dari Khadijah. Ia berkata “Khadijah melahirkan untuk Muhammad SAW dua orang anak laki-laki dan empat orang anak perempuan yaitu, Qosim, Abdullah, Fatimah, Ummu Kultsum, Zaenab dan Ruqoyah. Adapun putera beliau SAW yang bernama Ibrahim dilahirkan oleh Mariyah Al Qibtiyah. Seluruh putera beliau SAW meninggal saat masih kecil. Adapun puteri-puteri beliau SAW yang mendapati masa kenabian, mereka masuk islam dan ikut serta berhijrah”
Muhammad SAW di tengah kaumnya terkenal dengan akhlaknya yang mulia sehingga beliau melampaui mereka semuanya. Mereka memberinya gelar Al Amin,karena sifat-sifat kesalehannya yang diridhoi oleh semua pihak. Khadijah mengumpulkan akhlak beliau SAW dengan mengatakan “ Sesungguhnya engkau menyambung tali kekerabatan, menanggung orang yang kesusahan, menyantuni orang yang kekurangan, menjamu tamu dan membantu orang-orang yang kesulitan dengan menunaikan hak-haknya”
Penduduk Mekkah telah begitu mengenal sifat-sifat Rasulullah SAW. Mereka ridhai setiap kali terjadi perselisihan di antara mereka dengan keputusan Rasulullah Muhammad SAW. Namun beliau SAW sendiri mengingkari kesesatan dan penyembahan berhala yang mereka lakukan. Tatkala usia Rasulullah Muhammad SAW menjelang 40 tahun, beliau SAW senang menyendiri di gua Hira, sebuah gua di dekat kota Mekkah. Mempergunakan waktunya untuk beribadah dan memikirkan alam serta penciptanya. Beliau SAW menginap beberapa malam di gua Hira.
Bila pagi telah tiba dan Khadijah tidak mendapatkan suaminya di sisi pembaringan, ia pun mengetahui bahwa suaminya sedang menyendiri di gua Hira. Tak pernah Khadijah menanyakan suatu hal pun kepada suaminya, karena ia adalah seorang yang cerdik dan tahu persis kondisi suaminya ini. Cahaya kenabian pertama kali muncul dalam bentuk mimpi-mimpi yang benar. Mimpi-mimpi itu setiap kali muncul kepada beliau SAW berupa cahaya pagi yang merekah, suatu hal yang menimbulkan rasa takut dalam diri beliau SAW. Rasulullah SAW menceritakan kekhawatirannya kepada istrinya yang cerdik ini “Tatkala aku sedang menyendiri aku mendengar seruan. Demi Allah, saya khawatir akan terjadi sesuatu”
Khadijah menenangkan Rasulullah SAW dengan berkata “ Kita berlindung kepada Allah,  Allah tidak akan menimpakan itu kepadamu. Demi Allah, engkau senantiasa menunaikan amanat, menyambung tali kekerabatan dan berkata jujur”
Ucapan Khadijah ini merupakan sebuah bentuk firasat ilham yang mendinginkan dan menenangkan Rasulullah SAW. Perlahan-lahan ketakutan yang beliau SAW rasakan berkurang. Sesungguhnya kalimat-kalimat Khadijah ini muncul dari pengetahuannya tentang akhlak beliau SAW selama masa berdagang dan dalam seluruh aspek kehidupannya. Belum lagi dengan berita baik tentang diri suaminya yang beredar di tengah masyarakat.


Sumber : Kisah Islami







11 Wanita Bercerita Tentang Suami Mereka


Diriwayatkan oleh Aisyah R.a : Ada 11 orang wanita duduk berkumpul, lalu mereka saling berjanji dan mengucapkan kesepakatan untuk tidak menutup-nutupi sedikitpun informasi tentang suami-suami mereka.
Wanita pertama mengatakan: “Suamiku bagaikan seperti onta yang kurus yang berada diatas puncak gunung yang terjal, yang landai pun didaki dan yang gemuk pun dinaiki.”
Wanita kedua mengatakan: “Suamiku, aku terpaksa tidak dapat menuturkan mengenai keadaannya karena aku khawatir tidak dapat meninggalkannya. Jika aku menyebutkan sama halnya aku mengungkapkan rahasia aibnya.”
Wanita ketiga mengatakan: ”Suamiku berperawakan tinggi sekali. Jika aku berbicara maka aku akan diceraikannya dan jika aku diam aku pun akan dibiarkannya tanpa dicerai dan dikawinkan (muallaqah).”
Wanita keempat mengatakan: ”Suamiku seperti suasana malam di wilayah Tihamah, tidak panas dan tidak juga terlalu dingin, tidak menakutkan dan tidak juga membosankan.”
Wanita kelima mengatakan: ”Suamiku apabila sudah memasuki rumah, maka dia langsung tertidur nyenyak dan apabila keluar rumah dia seperti seekor singa tanpa menanyakan sesuatu apapun yang bukan termasuk urusannya.”
Wanita keenam mengatakan: ”Suamiku apabila makan, maka ia makan banyak sekali dengan bermacam jenis lauk dan jika minum maka semua sisa minuman akan diteguknya. Dan jika tidur dia akan berselimut tanpa mendekati diriku sehingga ia dapat merasakan nikmatnya kebersamaan.”
Wanita ketujuh mengatakan: ”Suamiku adalah orang yang tidak mengetahui kepentingan dirinya atau lemah syahwat serta tergagap-gagap bicaranya, setiap obat yang diminum tidak dapat menyembuhkan. Di samping itu dia juga orang yang mudah melukai dan memukul.”
Wanita kedelapan mengatakan: ”Suamiku beraroma wangi seperti zarnab dan sentuhannya selembut sentuhan seekor kelinci.”
Wanita kesembilan mengatakan: ”Suamiku adalah seorang terhormat, berpostur tinggi dan sangat dermawan, berumah dekat dengan tempat pertemuan.”
Wanita kesepuluh mengatakan: ”Suamiku bagaikan seorang raja, apa maksudnya? Suamiku adalah seorang pemilik unta yang banyak yang selalu menderum dan jarang sekali bergembala di padang rumput. Unta-unta tersebut jika mendengar suara alat musik kecapi, mereka merasa bahwa sebentar lagi mereka akan disembelih.”
Dan wanita yang kesebelas mengatakan: ”Suamiku bernama Abu Zar`in (seorang petani). Tahukah kamu siapakah Abu Zar`in? Dialah yang memberiku perhiasan anting-anting dan memberiku makan sehingga aku kelihatan gemuk dan selalu membuatku gembira sehingga aku merasa senang. Dia mendapati diriku dari keluarga tidak mampu yang tinggal di lereng bukit lalu mengajakku tinggal di daerah peternakan kuda dan unta dan dia juga seorang petani. Aku tidak pernah dicela bila berbicara di sisinya dan bila tidur aku dapat tidur dengan nyenyak sampai pagi. Dan bila minum aku dapat minum sampai puas. Lalu Ummu Abu Zar`in, tahukah kamu siapakah Ummu Abu Zar`in? Dia memiliki kantong-kantong bahan makanan yang besar-besar dan rumahnya sangat luas. Ibnu Abu Zar`in, tahukah kamu siapakah Ibnu Abu Zar`in? Dia memiliki tempat tidur laksana pedang yang dicabut dari sarungnya. Dia sudah merasa kenyang dengan hanya memakan sebelah kaki seekor anak kambing. Putri Abu Zar`in, tahukah kamu siapakah putri Abu Zar`in itu? Ia adalah seorang yang amat patuh terhadap kedua orang tuanya. Tubuhnya gemuk dan suka menimbulkan rasa iri tetangganya. Anak perempuan Abu Zar`in, tahukah kamu siapakah anak perempuan Abu Zar`in? Ia tidak pernah menyebarkan rahasia pembicaraan kami dan tidak menyia-nyiakan persediaan makanan kami serta tidak pernah mengotori rumah kami seperti sarang burung.”
Ia (sang istri) melanjutkan:” Suatu hari Abu Zar`in keluar dengan membawa bejana-bejana susu yang akan dijadikan mentega lalu bertemu dengan seorang wanita bersama kedua anaknya yang seperti dua ekor anak singa bermain dengan dua buah delima di bawah pinggang ibunya. Setelah itu aku diceraikannya demi untuk menikahi wanita tersebut. Lalu aku menikah lagi dengan seorang lelaki terhormat serta dermawan. Ia menunggangi seekor kuda yang sangat cepat larinya sambil membawa sebatang tombak dan memperlihatkan kepadaku kandang ternak yang penuh dengan unta, sapi dan kambing serta memberikanku sepasang dari setiap jenis binatang ternak tersebut. Dia berkata: Makanlah wahai Ummu Zar`in dan bawalah untuk keluargamu. Kalau kukumpulkan semua pemberiannya pasti tidak akan mencapai harga tempat minum paling kecil milik Abu Zar`in.
Aisyah berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Aku terhadapmu adalah seperti Abu Zar`in terhadap Ummu Zar`in.”

(Shahih Bukhari - Muslim )



Arasy Berguncang Karena Seorang Arab Badui


Suatu hari Rasulullah Muhammad SAW sedang tawaf di Kakbah, baginda mendengar seseorang di hadapannya bertawaf sambil berzikir: “Ya Karim! Ya Karim!”

Rasulullah SAW meniru zikirnya “Ya Karim! Ya Karim!”
Orang itu berhenti di satu sudut Kakbah dan menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!” Rasulullah yang berada di belakangnya menyebutnya lagi “Ya Karim! Ya Karim!”

Orang itu berasa dirinya di perolok-olokkan, lalu menoleh ke belakang dan dilihatnya seorang lelaki yang sangat tampan dan gagah yang belum pernah di lihatnya.

Orang itu berkata, “Wahai orang tampan, apakah engkau sengaja mengejek-ngejekku, karena aku ini orang badui? Kalaulah bukan karena ketampanan dan kegagahanmu akan kulaporkan kepada kekasihku, Muhammad Rasulullah.”

Mendengar kata-kata orang badwi itu, Rasulullah SAW tersenyum lalu berkata: “Tidakkah engkau mengenali Nabimu, wahai orang Arab?”
“Belum,” jawab orang itu.
“Jadi bagaimana kamu beriman kepadanya?” tanya Rasulullah SAW.
“Saya percaya dengan mantap atas kenabiannya, sekalipun saya belum pernah melihatnya, dan membenarkan perutusannya walaupun saya belum pernah bertemu dengannya,” jawab orang Arab badui itu.
Rasulullah SAW pun berkata kepadanya: “Wahai orang Arab, ketahuilah aku inilah Nabimu di dunia dan penolongmu nanti di akhirat.”

Melihat Nabi di hadapannya, dia tercengang, seperti tidak percaya kepada dirinya lalu berkata, “Tuan ini Nabi Muhammad?” “Ya,” jawab Nabi SAW.

Dengan segera orang itu tunduk dan mencium kedua kaki Rasulullah SAW.
Melihat hal itu Rasulullah SAW menarik tubuh orang Arab badui itu seraya berkata, “Wahai orang Arab, janganlah berbuat seperti itu. Perbuatan seperti itu biasanya dilakukan oleh seorang hamba sahaya kepada tuannya. Ketahuilah, Allah mengutus aku bukan untuk menjadi seorang yang takabur, yang minta dihormati atau diagungkan, tetapi demi membawa berita gembira bagi orang yang beriman dan membawa berita menakutkan bagi yang mengingkarinya.”

Ketika itulah turun Malaikat Jibril untuk membawa berita dari langit, lalu berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Katakan kepada orang Arab itu, agar tidak terpesona dengan belas kasih Allah. Ketahuilah bahwa Allah akan menghisabnya di Hari Mahsyar nanti, akan menimbang semua amalannya, baik yang kecil maupun yang besar.”

Setelah menyampaikan berita itu, Jibril kemudian pergi. Orang Arab itu pula berkata, “Demi keagungan serta kemuliaan Allah, jika Allah akan membuat perhitungan atas amalan hamba, maka hamba pun akan membuat perhitungan denganNya.”

Orang Arab badui berkata lagi, “Jika Allah akan memperhitungkan dosa-dosa hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa kebesaran magfirahNya. Jika Dia memperhitungkan kemaksiatan hamba, maka hamba akan memperhitungkan betapa luasnya pengampunanNya. Jika Dia memperhitungkan kebakhilan hamba, maka hamba akan memperhitungkan pula betapa dermawanNya.”

Mendengar ucapan orang Arab badui itu, maka Rasulullah SAW pun menangis mengingatkan betapa benarnya kata-kata orang Arab badui itu sehingga air mata meleleh membasahi janggutnya.

Lantaran itu Malaikat Jibril turun lagi seraya berkata, “Ya Muhammad, Tuhan As-Salam menyampaikan salam kepadamu dan berfirman: “Berhentilah engkau daripada menangis, sesungguhnya karena tangisanmu, penjaga Arasy lupa bacaan tasbih dan tahmidnya, sehingga ia bergoncang. Sekarang katakan kepada temanmu itu, bahwa Allah tidak akan menghisab dirinya, juga tidak akan menghitung kemaksiatannya. Allah sudah mengampunkan semua kesalahannya dan akan menjadi temanmu di syurga nanti.”

Betapa sukanya orang Arab badui itu, apabila mendengar berita itu dan menangis karena tidak berdaya menahan rasa terharu.




RASULULLAH DI BACKUP PARA MILYUNER



Para Milyuner di sekitar Rasulullah

Awas, setelah membaca artikel ini, bisa jadi Anda akan merasa sangat malu jika mengingat besarnya uang yang Anda masukkan dalam kotak amal di masjid. 

Seorang muslim diperbolehkan bercita-cita menjadi orang kaya dengan niat untuk memperkuat agamanya. 

Rasulullah bersabda:

لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنْ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنْ اتَّقَى خَيْرٌ مِنْ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنْ النَّعِيمِ

“Tidak ada masalah dengan kekayaan bagi orang yang bertaqwa. Kesehatan itu lebih baik daripada kekayaan bagi orang yang bertaqwa. Dan jiwa yang bagus merupakan kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah: 2132, Ahmad: 22076 dari Ubaid bin Mu’adz t, di-shahih-kan oleh Al-Hakim dalam Mustadrak: 2131 (2/3) dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Di-shahih-kan oleh Al-Allamah Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah: 174).


Dan Rasulullah berpesan kepada umatnya, agar menghindari dari kefaqiran, dan untuk hal itu beliau mengajarkan doa, sebagaimana bunyi hadits berikut :

Dari Abu Hurairah ra. :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْفَقْرِ وَالْقِلَّةِ وَالذِّلَّةِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ

“Bahwa Nabi berdo’a: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefaqiran, sedikit harta benda, dan kehinaan, dan aku berlindung kepada-Mu daripada menzhalimi orang lain atau dizhalimi.” (HR. Abu Dawud: 1320, An-Nasa’i: 5365, Ahmad: 7708 dan di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’: 1287).

Dari Abdullah bin Mas’ud ra. bahwa Rasulullah berdo’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, iffah (menjaga diri dari perkara haram), dan kekayaan.” (HR. Muslim: 4898, At-Tirmidzi: 3411 dan Ibnu Majah: 3822).


Berikut ini, beberapa Sahabat Rasulullah, yang berdasarkan catatan sejarah yang diindikasikan sebagai Konglomerat, antara lain :


1. Abu Bakar ra.

Ibnu Umar ra mengatakan diawal keislaman Abu Bakar menghabiskan dana sekitar 40.000 Dirham untuk memerdekakan budak. Jika harga 1 Dirham Perak saat ini adalah Rp. 67.500, itu artinya yang dibayar oleh beliau setara dengan Rp 2,7 Miliar.

Ketika Abu Bakar ra. berkeinginan membebaskan Bilal ra. dari perbudakan, Umaiyah bin Khalaf mematok harga 9 uqiyah emas dan dengan segera Abu Bakar ra. langsung menebusnya.

Untuk diketahui 1 uqiyah emas senilai 31,7475 gr gram emas, atau setara dengan 7,4 dinar emas. Jika harga 1 dinar emas sekarang adalah sebesar Rp. 2.370.000, berarti dana yang dikelurkan Abu Bakar ra. adalah sebesar Rp. 157.842.000,- (9 x 7,4 x Rp. 2.370.000 ).



2. Umar bin Khaththab ra.

Di dalam Kitab Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih, karangan Ibnu Abdil Barr, menerangkan bahwa Umar ra. telah mewasiatkan 1/3 hartanya yang nilainya melebihi nilai 40.000 (dinar atau dirham), atau totalnya melebihi nilai 120.000 (dinar atau dirham). Jika dengan nilai sekarang, setara dengan Rp. 284,4 Milyar (dinar) atau Rp. 8,1 Milyar (dirham).


3. Utsman bin Affan ra.

Saat Perang Tabuk, beliau menyumbang 300 ekor unta, setara dengan nilai Rp. 3 Milyar, serta dana sebesar 1.000 Dinar Emas, yang setara dengan Rp. 2,37 Milyar.

Ubaidullah bin Utbah memberitakan, ketika terbunuh, Utsman ra. masih mempunyai harta yang disimpan penjaga gudangnya, yaitu: 30.500.000 dirham (setara dengan Rp. 2,05875 Trilyun) dan 100.000 dinar (setara dengan Rp. 237 Milyar).


4. Abdurrahman bin Auf ra.

Ketika menjelang Perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf mempelopori dengan menyumbang dana sebesar 200 Uqiyah Emas atau setara dengan Rp. 3,5 Milyar.

Menjelang wafatnya, beliau mewasiatkan 50.000 dinar untuk infaq fi Sabilillah, atau setara dengan nilai Rp. 118,5 Milyar.

Dari Ayyub (As-Sakhtiyani) dari Muhammad (bin Sirin), memberitakan ketika Abdurrahman bin Auf ra. wafat, beliau meninggalkan 4 istri. Seorang istri mendapatkan dari 1/8 warisan sebesar 30.000 dinar emas. Hal ini berarti keseluruhan istri-nya memperoleh 120.000 dinar emas, yang merupakan 1/8 dari seluruh warisan.

Dengan demikian total warisan yang ditinggalkan oleh Abdurrahman bin Auf ra, adalah sebesar 960.000 dinar emas, atau jika di-nilai dengan nilai sekarang setara dengan Rp. 2,2752 Trilyun.


5. Abdullah ibnu Mas’ud ra.

Menurut Zurr bin Hubaisy Al-Kufi, Ibnu Mas’ud ra. ketika meninggal dunia mewariskan harta senilai 70.000 dirham, atau saat ini senilai Rp. 4,725 milyar.


6. Hakim bin Hizam ra.

Urwah bin Az-Zubair berkata bahwa Hakim bin Hizam telah mensedekahkan 100 unta, atau saat ini senilai dengan Rp. 1 Milyar.


7. Thalhah bin Ubaidillah ra.

Menurut Musa bin Thalhah, Thalhah bin Ubaidillah ketika meninggal mewariskan harta berupa 200.000 dinar emas, atau saat ini senilai Rp. 474 Milyar.


8. Sa’ad bin Abi Waqqash ra.

Menurut Aisyah binti Sa’ad, ketika Sa’ad bin Abi Waqqash ra. meninggal dunia, beliau mewariskan 250.000 dirham, atau pada saat ini senilai Rp. 16,875 Milyar.


9. Ibnu Umar ra.

Ibnu Umar pernah menjual tanahnya seharga 200 ekor unta. Lalu, separuhnya dia gunakan untuk membekali pasukan mujahid. Jika satu ekor unta saat ini senilai 4.000 riyal dan 1 riyal = Rp. 2.500, maka jumlah yang telah di-sumbangkan Ibnu Umar adalah sebesar Rp. 1 Milyar (50% x 200 x 4000 x Rp. 2500).

Sumber : bacaan islami